Sunday, April 26, 2026

My Love For The مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  







 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Loving Prophet Muhammad (peace be upon him) as the guide for the dwellers of the world and universe is a central tenet of Islamic faith, centered on recognizing him as Rahmatan lil-'Alamin (a mercy to all the worlds). Sincere love for him involves following his Sunnah (teachings and lifestyle), embodying his character, and treating all creation with compassion, thereby guiding humanity toward peace and spiritual salvation.

The Nature of the Prophet's Guidance
Universal Mercy: The Quran states he was sent as a mercy to all existence (mankind, jinns, and all that exists). This mercy meant he sought to protect humanity from destruction and guide them from darkness to light.
Perfected Character: His mission was to refine moral character, promoting kindness, trustworthiness, and justice.
The "Middle Path": He guided the world towards moderation in worship, social life, and stewardship of the environment, avoiding extremism.

How to Love and Follow the Prophet
True love is not just emotional, but practical, evidenced by the following actions:
Strict Adherence to Sunnah: Sincere lovers study his life (Seerah) and follow his path in worship, character, and daily life.
Constant Salawat (Blessings): Sending peace and blessings upon him is a direct command and a way to increase love and closeness to him.
Embodying Compassion: Following his example means being compassionate to children, women, the elderly, and animals.
Prioritizing His Teachings: Sincere love means prioritizing his guidance over one's own desires and opinions.
Defending His Legacy: True followers defend his teachings from distortion or innovation (bid'ah).

Impact of Loving the Prophet
Closeness to Allah: Loving the Prophet is a means to earn Allah's love and forgiveness.
Sweetness of Faith: The Prophet stated that true faith is not achieved until he is more beloved to a person than their family and themselves.
Intercession: Loving him is seen as a source of salvation and a means to be in his company in Paradise.

The Prophet Muhammad’s life is considered a practical blueprint for guiding humanity toward harmony and spiritual success in both this world and the hereafter.
This meaning was mentioned in many ahadith, such as:

The hadith included by al-Hakim in Al-Mustadrak and by al-Baihaqi in Dala`il al- Nubuwwa from the narration of Umar Ibn al-Khattab [may Allah be pleased with him], who said, "The Prophet [pbuh] said, 'When Adam sinned, he said, O Allah! I ask for Your forgiveness for the sake of Muhammad (pbuh)." Allah asked him, "How do you know Muhammad (pbuh) when I have not yet created him?" He (Adam) said, "O Allah! After you created me and breathed into me of your soul I raised my head and saw 'There is no god but Allah and Muhammad is the Messenger of Allah' written on the Throne. I then came to know that You would not put anyone's name next to Yours except the name of the one who is dearest to You from among creation." Allah said, "O Adam! You have spoken the truth. Indeed, he [Muhammad] is the dearest to me from among all creation. Supplicate to me through his sake for indeed I have forgiven you. If it were not for Muhammad, I would not have created you" [Al-Hakim declared it authentic and al-Taqi as-Subki declared it fair in Shifa` as- Siqam).

- Ad-Dailami recorded in al-Firdaws bi Ma`thur al-Khitab through Ibn 'Abbas [may Allah be pleased with them both] that the Prophet [pbuh] said, "Jibril came to me and said: 'Allah said: 'If it were not for you [Muhammad] I would not have created Paradise and if it were not for you I would not have created Hellfire." The same hadith was mentioned by Ibn 'Asakr in Tarikh Dimishq from the narration of Salman al-Farsi in his wording: "I have created the world and its inhabitants to demonstrate your honor and status [I hold you in]. And if it were not for you, O Muhammad, I would not have created the world."

- Al-Hakim included in al-Mustadrak and Abu al-Sheikh in Tabaqat al-Asfahanin through Abdullah Ibn 'Abbas [may Allah be pleased with them both] a hadith mawquf which states: "Allah revealed to Isa [pbuh] and said: 'O Isa! Believe in Muhammad and order those from among your people who will be present at his time to believe in him. For if it were not for Muhammad, I would not have created Adam, and if it were not for Muhammad, I would not have created Paradise or Hellfire. I have placed the throne over water, and it quavered, but when I wrote on it that there is no Deity except Allah and Muhammad is the Messenger of Allah, it became still." [Al-Hakim declared it authentic. Bukhari and Muslim did not record it).

Although these ahadith and non-Prophetic narrations are weak or include some which are weak, their meanings are valid. The meaning of the statement 'were it not for our master Muhammad [pbuh], Allah Almighty would not have created anything', is found in a Qur`anic verse in which Allah Almighty says,

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ٥٦

I have only created Jinns and men, that they may serve Me. 
[Surah Az-Zariyat: Ayat 56]



Posted By" Albakr Allatifi

Translation [Bahasa Melayu]

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Mencintai Nabi Muhammad (saw) sebagai pembimbing bagi penghuni dunia dan alam semesta merupakan prinsip utama dalam akidah Islam, yang berpusat pada pengiktirafan baginda sebagai Rahmatan lil-'Alamin (rahmat kepada seluruh alam). Kecintaan yang tulus ikhlas terhadap baginda melibatkan mengikuti Sunnah (ajaran dan gaya hidupnya), menjelmakan akhlaknya, dan melayan semua makhluk dengan penuh belas kasihan, dengan itu membimbing manusia ke arah keamanan dan keselamatan rohani.

Sifat Bimbingan Nabi
Rahmat Sejagat: Al-Quran menyatakan bahawa baginda diutus sebagai rahmat kepada seluruh makhluk (manusia, jin, dan semua yang ada). Rahmat ini bermaksud baginda berusaha melindungi manusia daripada kemusnahan dan membimbing mereka dari kegelapan kepada cahaya.
Perwatakan yang Sempurna: Misi baginda adalah untuk memperbaiki akhlak, menggalakkan kebaikan, kepercayaan, dan keadilan.
"Jalan Tengah": Baginda membimbing dunia ke arah kesederhanaan dalam ibadah, kehidupan sosial, dan pengurusan alam sekitar, mengelakkan ekstremisme.

Cara Mencintai dan Mengikuti Nabi
Cinta sejati bukan sekadar emosi, tetapi praktikal, dibuktikan dengan tindakan berikut:
Kepatuhan Tegas kepada Sunnah: Pencinta yang ikhlas mempelajari kehidupannya (Sirah) dan mengikuti jalannya dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan seharian.
Selawat (Rahmat) yang Berterusan: Mengirimkan selawat dan salam ke atasnya adalah perintah langsung dan cara untuk meningkatkan cinta dan kedekatan dengannya.
Mewujudkan Kasih Sayang: Mengikuti teladan baginda bermaksud berbelas kasihan kepada kanak-kanak, wanita, orang tua, dan haiwan.
Mengutamakan Ajaran-Nya: Cinta yang tulus bermaksud mengutamakan bimbingannya berbanding keinginan dan pendapat sendiri.
Mempertahankan Warisan Baginda: Pengikut sejati mempertahankan ajarannya daripada penyelewengan atau inovasi (bid'ah).

Impak Mencintai Nabi
Kedekatan dengan Allah: Mencintai Nabi adalah cara untuk mendapatkan cinta dan pengampunan Allah.
Kemanisan Iman: Nabi menyatakan bahawa iman yang sejati tidak tercapai sehingga dia lebih dicintai oleh seseorang daripada keluarga dan diri mereka sendiri.
Syafaat: Mencintainya dilihat sebagai sumber keselamatan dan cara untuk berada bersamanya di Syurga.

Kehidupan Nabi Muhammad dianggap sebagai pelan tindakan praktikal untuk membimbing manusia ke arah keharmonian dan kejayaan rohani di dunia dan akhirat.
Maksud ini disebut dalam banyak hadith, seperti:

Hadith yang disertakan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan oleh al-Baihaqi dalam Dala`il al-Nubuwwa daripada riwayat Umar Ibn al-Khattab [semoga Allah meridhainya], yang berkata, "Nabi [saw] berkata, 'Apabila Adam berdosa, dia berkata, Ya Allah! Aku memohon keampunan-Mu demi Muhammad (saw)." Allah bertanya kepadanya, "Bagaimana kamu mengenali Muhammad (saw) sedangkan Aku belum menciptakannya?" Dia (Adam) berkata, "Ya Allah! Setelah Engkau menciptakanku dan meniupkan ke dalam diriku roh-Mu, aku mengangkat kepalaku dan melihat 'Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Pesuruh Allah' tertulis di atas Arasy. Kemudian aku mengetahui bahawa Engkau tidak akan meletakkan nama sesiapa pun di sebelah-Mu kecuali nama orang yang paling Engkau cintai di antara makhluk-makhluk ciptaan." Allah berfirman, "Wahai Adam! Engkau telah berkata benar. Sesungguhnya dia [Muhammad] adalah orang yang paling Aku cintai di antara semua makhluk. Berdoalah kepada-Ku dengan perantaraannya kerana sesungguhnya Aku telah mengampunimu. Jika bukan kerana Muhammad, nescaya Aku tidak akan menciptakanmu" [Al-Hakim mengisytiharkannya sahih dan al-Taqi as-Subki mengisytiharkannya adil dalam Shifa` as-Siqam].

- Ad-Dailami merakamkan dalam al-Firdaws bi Ma`thur al-Khitab melalui Ibn 'Abbas [semoga Allah meredhai mereka berdua] bahawa Nabi [saw] berkata, "Jibril datang kepadaku dan berkata: 'Allah berfirman: 'Jika bukan keranamu [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan Syurga dan jika bukan keranamu Aku tidak akan menciptakan Neraka." Hadis yang sama disebut oleh Ibn 'Asakr dalam Tarikh Dimishq daripada riwayat Salman al-Farsi dalam lafaznya: "Aku telah menciptakan dunia dan penghuninya untuk menunjukkan kehormatan dan kedudukanmu [Aku memegangmu]. Dan jika bukan keranamu, wahai Muhammad, Aku tidak akan menciptakan dunia."

- Al-Hakim memasukkan dalam al-Mustadrak dan Abu al-Sheikh dalam Tabaqat al-Asfahanin melalui Abdullah Ibn 'Abbas [semoga Allah meredhai mereka berdua] sebuah hadith mawquf yang menyatakan: "Allah mewahyukan kepada Isa [as] dan berfirman: 'Wahai Isa! Berimanlah kepada Muhammad dan perintahkan orang-orang dari kalangan umatmu yang akan hadir pada zamannya untuk beriman kepadanya. Kerana jika bukan kerana Muhammad, Aku tidak akan menciptakan Adam, dan jika bukan kerana Muhammad, Aku tidak akan menciptakan Syurga atau Neraka. Aku telah meletakkan arasy di atas air, dan ia bergegar, tetapi apabila Aku menulis di atasnya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Pesuruh Allah, ia menjadi diam." [Al-Hakim mengisytiharkannya sahih. Bukhari dan Muslim tidak mencatatnya).

Walaupun hadith dan riwayat bukan Nabi ini lemah atau termasuk beberapa yang lemah, maknanya sah. Maksud pernyataan 'jika bukan kerana junjungan kita Muhammad [saw], Allah SWT tidak akan menciptakan sesuatu pun', terdapat dalam ayat Al-Quran di mana Allah SWT berfirman,

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ٥٦

I have only created Jinns and men, that they may serve Me. 
[Surah Az-Zariyat: Ayat 56]



No comments:

Post a Comment

My Love For The مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ      بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Loving Prophet Muhammad (peace be upon him)...